Ternak Burung Jalak Bali: Upaya Pelestarian Spesies Langka

Ternak Burung Jalak Bali: Upaya Pelestarian Spesies Langka

Pendahuluan

Burung jalak bali (Leucopsar rothschildi) merupakan spesies burung endemik Indonesia yang sangat langka dan dilindungi. Burung ini memiliki bulu putih bersih dengan jambul hitam di kepalanya, serta paruh dan kaki berwarna biru cerah. Jalak bali hanya ditemukan di habitat hutan kering di Taman Nasional Bali Barat, Jawa Timur.

Populasi jalak bali sempat menurun drastis akibat perburuan dan hilangnya habitat. Pada tahun 1990, diperkirakan hanya tersisa sekitar 10 ekor burung jalak bali di alam liar. Upaya pelestarian pun dilakukan secara intensif, salah satunya melalui program ternak.

Program Ternak

Program ternak jalak bali dimulai pada tahun 1995 di Pusat Penangkaran Burung Jalak Bali (PPBJ) di Taman Nasional Bali Barat. Tujuan utama program ini adalah untuk meningkatkan populasi jalak bali di alam liar dan mencegah kepunahannya.

Burung jalak bali yang diternak berasal dari populasi liar yang ditangkap dan dipelihara di kandang penangkaran. Induk burung dipilih secara selektif berdasarkan kesehatan dan genetiknya. Telur yang dihasilkan dierami secara buatan atau oleh induk burung itu sendiri.

Anak burung jalak bali yang menetas dipelihara di kandang khusus hingga cukup umur untuk dilepasliarkan. Proses pelepasliaran dilakukan secara bertahap, dimulai dengan habituasi di kandang transisi yang terletak di dalam habitat alami. Setelah burung menunjukkan perilaku liar yang baik, mereka akan dilepas ke alam liar.

Tantangan Ternak

Ternak burung jalak bali menghadapi beberapa tantangan, antara lain:

  • Kesulitan Berkembang Biak: Jalak bali memiliki tingkat reproduksi yang rendah, dengan hanya beberapa telur yang dihasilkan per tahun.
  • Persaingan dengan Spesies Lain: Burung jalak bali harus bersaing dengan spesies burung lain untuk mendapatkan makanan dan tempat bersarang.
  • Penyakit: Burung jalak bali rentan terhadap penyakit, terutama penyakit pernapasan dan pencernaan.
  • Predator: Jalak bali menjadi sasaran predator seperti elang dan kucing liar.

Keberhasilan Program

Meskipun menghadapi tantangan, program ternak jalak bali telah berhasil meningkatkan populasi burung ini secara signifikan. Pada tahun 2022, diperkirakan terdapat sekitar 150 ekor burung jalak bali di alam liar, meningkat dari hanya 10 ekor pada tahun 1990.

Keberhasilan program ternak ini tidak hanya berdampak pada pelestarian jalak bali, tetapi juga pada ekosistem hutan kering di Taman Nasional Bali Barat. Jalak bali berperan sebagai penyebar biji, membantu regenerasi hutan dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Upaya Pelestarian Lainnya

Selain program ternak, upaya pelestarian jalak bali juga meliputi:

  • Perlindungan Habitat: Melindungi dan mengelola habitat hutan kering di Taman Nasional Bali Barat untuk memastikan ketersediaan makanan dan tempat bersarang.
  • Penelitian dan Monitoring: Melakukan penelitian dan monitoring untuk memahami biologi dan ekologi jalak bali, serta mengevaluasi efektivitas program pelestarian.
  • Pendidikan dan Partisipasi Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian jalak bali dan melibatkan mereka dalam upaya pelestarian.

Kesimpulan

Ternak burung jalak bali merupakan upaya penting dalam pelestarian spesies langka ini. Program ternak yang dilakukan di Pusat Penangkaran Burung Jalak Bali telah berhasil meningkatkan populasi burung jalak bali di alam liar. Namun, upaya pelestarian harus terus dilakukan untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini di masa depan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat, kita dapat melindungi jalak bali dan kekayaan alam Indonesia yang berharga.